Untuk Disiarkan : Kamis 16 April 2015
Reporter : Nabila Puspa Asriyani
Kemarin, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuludin (FU) menggelar bedah buku “Tinjauan Kritis Ahmadiyah di Indonesia”, karya Kunto Sofianto, Ph.D. Narasumber yang hadir dalam acara ini, yaitu, Aminuddin selaku Dekan FU, dan Mubarik Ahmad selaku Pengurus Besar Ahmadiyah Bogor. Acara ini berlangsung di ruang teater lantai empat FU, pukul satu siang hingga empat sore. Acara ini dihadiri mahasiswa UIN Jakarta dan anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Kesimpulan yang penulis angkat dalam bukunya ialah, Kunto Sofianto mengangkat masalah sejarah Ahmadiyah khususnya di Jawa Barat. Penjelasan mengenai bagaimana Ahmadiyah bisa masuk ke tanah Sunda, dan bagaimana masyarakat bisa menerima keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Dalam perjalanannya, terutama pada era Reformasi, banyak mengalami tekanan politik dan sosial yang tidak ringan. Tetapi, sampai 125 tahun ini, Jemaat Ahmadiyah tetap eksis. Ini adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
![]() |
| (Rabu, 15/4) Pemberian Cenderamata Saat Bedah Buku Ahmadiyah Berlangsung. |
Kemarin, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuludin (FU) menggelar bedah buku “Tinjauan Kritis Ahmadiyah di Indonesia”, karya Kunto Sofianto, Ph.D. Narasumber yang hadir dalam acara ini, yaitu, Aminuddin selaku Dekan FU, dan Mubarik Ahmad selaku Pengurus Besar Ahmadiyah Bogor. Acara ini berlangsung di ruang teater lantai empat FU, pukul satu siang hingga empat sore. Acara ini dihadiri mahasiswa UIN Jakarta dan anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Kesimpulan yang penulis angkat dalam bukunya ialah, Kunto Sofianto mengangkat masalah sejarah Ahmadiyah khususnya di Jawa Barat. Penjelasan mengenai bagaimana Ahmadiyah bisa masuk ke tanah Sunda, dan bagaimana masyarakat bisa menerima keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Dalam perjalanannya, terutama pada era Reformasi, banyak mengalami tekanan politik dan sosial yang tidak ringan. Tetapi, sampai 125 tahun ini, Jemaat Ahmadiyah tetap eksis. Ini adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Selama ini,
masyarakat sering menilai bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan
menyesatkan tanpa mengetahui berbagai fakta. Dalam diskusi, Mubarik memaparkan
lebih baik membuat pertanyaan daripada pernyataan yang tidak didasari dengan
fakta. Mubarik juga memaparkan, tokoh-tokoh yang
berpengaruh pengabdiannya terhadap Negara Indonesia, W.R.Supratman, pahlawan
Ampera Arif Rahman Hakim merupakan anggota JAI.
Penulis buku,
Kunto Sofianto yang bukan anggota JAI, mengatakan, Ahmadiyah memberikan ibadah
sosial yang nyata. Selama ini masyarakat hanya tahuu
sesat dan sesat saja. Segala sesuatunya hendaknya tidak diterima mentah-mentah, karena Ahmadiyah juga sangat berperan penting untuk kemajuan Indonesia.
KH.Saeful
Abdullah, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Barat, mengatakan, keyakinan
adalah masalah pribadi, yang langsung dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Setiap perbedaan keyakinan, idealnya dijembatani dengan
dialog dan diskusi.

0 komentar:
Posting Komentar