Berita untuk disiarkan pada program NEWSTAINMENT, Senin-Jum'at pukul 09.00-10.00 WIB

Rabu, 15 April 2015

DEMA FU Gelar Bedah Buku Ahmadiyah


Untuk Disiarkan          : Kamis 16 April 2015
Reporter                      : Nabila Puspa Asriyani

(Rabu, 15/4) Pemberian Cenderamata Saat Bedah Buku Ahmadiyah Berlangsung.

Kemarin, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuludin (FU) menggelar bedah buku “Tinjauan Kritis Ahmadiyah di Indonesia”, karya Kunto Sofianto, Ph.D. Narasumber yang hadir dalam acara ini, yaitu, Aminuddin selaku Dekan FU, dan Mubarik Ahmad selaku Pengurus Besar Ahmadiyah Bogor. Acara ini berlangsung di ruang teater lantai empat FU, pukul satu siang hingga empat sore. Acara ini dihadiri mahasiswa UIN Jakarta dan anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Kesimpulan yang penulis angkat dalam bukunya ialah, Kunto Sofianto mengangkat masalah sejarah Ahmadiyah khususnya di Jawa Barat.  Penjelasan mengenai bagaimana Ahmadiyah bisa masuk ke tanah Sunda, dan bagaimana masyarakat bisa menerima keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Dalam perjalanannya, terutama pada era Reformasi, banyak mengalami tekanan politik dan sosial yang tidak ringan. Tetapi, sampai 125 tahun ini, Jemaat Ahmadiyah tetap eksis. Ini adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Selama ini, masyarakat sering menilai bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan tanpa mengetahui berbagai fakta. Dalam diskusi, Mubarik memaparkan lebih baik membuat pertanyaan daripada pernyataan yang tidak didasari dengan fakta. Mubarik juga memaparkan, tokoh-tokoh yang berpengaruh pengabdiannya terhadap Negara Indonesia, W.R.Supratman, pahlawan Ampera Arif Rahman Hakim merupakan anggota JAI.

Penulis buku, Kunto Sofianto yang bukan anggota JAI, mengatakan, Ahmadiyah memberikan ibadah sosial yang nyata. Selama ini masyarakat hanya tahuu sesat dan sesat saja. Segala sesuatunya hendaknya tidak diterima mentah-mentah, karena Ahmadiyah juga sangat berperan penting untuk kemajuan Indonesia.

KH.Saeful Abdullah, Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Barat, mengatakan, keyakinan adalah masalah pribadi, yang langsung dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Setiap perbedaan keyakinan, idealnya dijembatani dengan dialog dan diskusi.

0 komentar:

Posting Komentar